Tantangan belum usai

Di hari ke 10  mencoba melatih diri berkomunikasi yang baik dengan anak-anak, ternyata membuahkan hasil. Paling tidak saya mulai melihat ada perubahan walau masih kecil dari tiap anak-anak kami. Misalnya saja anak saya yang ketiga sudah mulai ijin ketika ingin meminjam sesuatu, tidak berteriak-teriak lagi, dan saya harap akan ada lagi perkembangannya. Sedangkan anak kedua kami, saya melihatnya masih butuh diperhatikan terus bagaimana ia ingin menyampaikan sesuatu dengan bahasa Indonesia nya. Sudah mulai terlatih walau susunan kata-kata tetap saja masih terbalik-balik. Putri pertama kami sudah mulai mengerti kenapa dia tidak boleh teriak-teriak, dan paham jika saya meminta tolong sesuatu maka ia segera membantu saya.  Belum terlalu banyak perubahan tapi paling tidak ini sudah bisa menjadi landasan saya untuk terus mengenal bagaimana harus berkomunikasi dengan anak-anak saya. Bahkan untuk si kecil yang masih 9 bulan, saya mulai mengenalkan juga untuk semangat latihan merangkak, mensupport dengan kata-kata positif, dan sebagainya.

Ada poin yang masih belum saya latih dalam tantangan di Komunikasi Produktif ini yaitu Fokus pada Masa Depan, Refleksi Pengalaman dan Observasi. Walaupun dari postingan sebelumnya saya sedikit mulai menjelaskan bagaimana mengobservasi kenapa anak berperilaku atau berbuat sesuatu, tapi saya belum menekankan ke anak-anak. Bagaimana anak-anak dapat juga melihat sekelilingnya untuk mengobservasi atas sesuatu.


“Ma, aku kayaknya mau jadi guru deh” ujar anak pertama kami, “tapi belum tahu sih ma, nantinya berubah apa ngga” tambahnya. Akhirnya keluar juga nih perkataan ayuk ingin jadi apa. Saat itu saya meresponnya mau jadi guru apa? dia pun masih menggelengkan keala tanda belum tahu. saya hanya menekankan bahwa apapun yang nanti dia kerjakan, harus sesuai dengan apa yang ia inginkan, ia suka, dan bermanfaat juga sesuai dengan ajaran agama. Saya akhiri perbincangan saya saat itu dengan bilang ke putri kami,” kan mbah ibu sama papa juga guru, walau yang satu di sekolah dasar satu lagi di perguruan tinggi.” hehe..


Perilaku yang saya rasa masih sering berubah-ubah yaitu anak kedua kami. Mungkin karena ia sedang masa transisi ingin ke sekolah dasar dari taman kanak-kanak, jadi saya merasa egonya sedang meninggi. Sulit diajak kerjasama salah satunya. Hari ini ia juga sering merasa bosan di rumah, karena ia belum tahu apa yang bisa ia lakukan. Walaupun sering diarahkan, tapi ada saja alasannya. inilah tantangan kami, menjadikan dia sosk yang tidak mudah bosan dan mulai percaya diri atas apa yang ia kerjakan.


Selama di rantau ini, saya merasakan nikmatnya berkomunikasi dengan suami. Karena saya hanya punya teman cerita yah suami ku ini. hehe. Jadi apa saja biasanya akan saya ceritakan terlebih tentang apa yang terjadi dengan anak-anak, sampai hal apa yang saya minta bantuannya untuk mengkomunikasikan ke anak-anak. Supaya tidak terjadi perselisihan pendapat antara kami tentunya, saat bertindak sebagai orang tua di depan anak-anak. Walau kadang suka naik turun, tapi itulah yah namanya pasangan, ngga ada yang beda malah ngga asyik, hehe..

Tapi untuk masalah anak-anak saya sebisa mungkin berkonsultasi dengan suami, apa saja yang baiknya kami lakukan jika sedang menemui suatu kondisi dengan anak-anak.

Rasanya tantangan ini ngga akan usai, karena kamipun masih belajar. 10 hari belum terasa cukup untuk memastikan apakah sudah produktif komunikasi antara saya dengan anak-anak ataupun ke suami, Tapi dengan melalui tahapan ini, saya merasakan ada kesadaran dalam diri saya bahwa banyak yang perlu saya benahi dan belajar lagi, terutama jika menemui situasi-situasi yang sulit yang belum pernah saya hadapi. Menjelang 10 tahun pernikahan kami, saya pun merasakan perbedaan antara saya dan suami itu bukan lagi menjadi sebuah dinding yang tidak bisa dilewati, tapi saya sedang membuat pintu agar dinding itu mudah dilewati.

Moga bermanfaat ya..

Aachen, 17 Juni 2017

#level1

#day10

#tantangan10 hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

 

 

Psst.. ayuk lagi sakit ..

Hari kedua di pekan sekolah, qadarullah anak sulung kami sedang kurang sehat. Malam saat menjelang sahur terbangun dan batuk-batuk. Paginya pun mulai sakit kepala dan tidak enak saat menelan. Yah ayuk (panggilan kakak perempuan di keluarga kami) lagi kurang sehat.

Ketika adik-adiknya mulai bangun, dan sedikit bingung kenapa ayuknya masih tertidur, kami pun menjelaskan bahwa ayuknya kurang sehat. Jadi butuh istirahat dan tidak bisa sekolah dulu. Nah untuk yang putri ketiga kami yang masih 3 tahun ini kami timbulkan rasa empatinya dengan cara tidak berisik di kamar ayuknya saat mengambil mainan, dan membiarkan ayuknya istirahat dulu. Maklum, putri ketiga ini kalau sudah tahu ada kakaknya di rumah selalu ingin diajak main bareng soalnya.

Saat ada yang terkena sakit, biasanya kami memberitahukan ke tiap anggota keluarga untuk lebih perhatian ke yang sakit. Jadi saat ayuk sakit, berarti ada beberapa konsekuensi yang anak-anak lain tahu. Seperti ayuknya dibolehkan untuk tidak berpuasa dulu, harus tidur siang, tidak makan chips, dan sebagainya. Jadi kalau ada yang tahu ayuknya makan chips harus melapor ke mama atau papanya. hehe..

Saat suatu malam, pernah ada kejadian saya sedang kurang sehat. Kemudian putri ketiga kami ini memberikan empatinya ke saya, sambil mengelus rambut saya, “kiss mama”.. melow deh mamanya kalau dibeginiin.. hehe.. Tapi memang tiap anak akan beda-beda yah cara berempatinya. Dari apa yang saya perhatikan kalau anak pertama kami lebih ke apa yang bisa ia bantu jika ada yang sakit, anak kedua lebih ke memperhatikan bagian yang mana yang sakit, dan anak ketiga mulai terlihat ke sentuhan fisik yang seperti apa biasanya ia lihat, jadi ia menirunya.

Menunjukkan empati merupakan salah satu poin dalam komunikasi produktif pada anak di kelas bunda sayang. Melalui tantangan ini pun saya jadi teringat pentingya menimbulkan rasa empati ke anak-anak. Terutama saat salah satu dari anggota keluarga kami sedang sedih ataupun sedang sakit.

Ketika anak-anak mulai peka akan apa yang terjadi di sekitarnya, misalnya ada anak kecil atau temannya di sekitarnya sedang sedih atau pun sedang kesakitan karena jatuh, kami pun mulai mengajarkan anak-anak untuk membantu anak/temannya tersebut sesuai dengan apa yang mereka bisa bantu. Atau pernah juga saat di sekolah ayuk nya ada pengungsi dari Suriah misalnya, kami mengajarkan berempati ke anak-anak, dan menggambarkan pula bagaimana rasanya harus berpindah ke negara lain di saat di negara sendiri, rumahnya sudah hancur dan banyak kekacauan yang terjadi. Yah walaupun mereka masih meraba-raba seperti apa jelasnya, tapi paling tidak putri sulung kami yang sudah mulai paham karena dibantu dengan salah satu video dokumentasi tentang keluarga pengungsi berbahasa Jerman yang pernah ia tonton di Youtube.

Tantangan ini pun masih berlanjut seterusnya dan memang butuh arahan dari kami sebagai orang tua. Apalagi dalam lingkungan yang berlatar belakang beda budaya, terkadang cara berempati pun berbeda. Tapi paling tidak patokan kami adalah dengan mengajarkan berempati yang sesuai dengan agama kami, yaitu Islam. Menunjukkan kasih sayang sesama anggota keluarga itu lebih utama, walau sering berantem atau berebutan mainan, tapi harus ingat bahwa kita satu keluarga yang harus saling menyanyangi.. Butuh latihan dan tentunya belajar ilmunya terus pastinya..

Harapan kami dengan terus melatih berempati inipun anak-anak nantinya dapat menjadikan anak-anak dapat bertindak yang sesuai dengan situasi kondisi tertentu dengan baik. Sehingga orang lainpun dapat merasakannya.

Aachen, 12 Juni 2017

#level1
#day8
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

 

 

 

 

Yeah, kamu bisa..

“Yeah, bravo!” ujar putri ketiga kami sambil tepuk tangan ketika ia menyaksikan adiknya mulai merangkak. Memang sudah dinanti-nanti merangkaknya adik oleh kami, yang sekarang sudah dengan cepatnya kesana kemari.

Menyaksikan reaksi putri ketiga kami ini, kami jelas melihat bahwa dia memuji si adik dengan gaya yang sama dengan kakaknya contohkan atau dari kebiasaan saya. Disini kami mulai memberikan contoh bagaimana memberi pujian kecil bagi siapa yang sudah bisa melakukan sesuatu yang baru bagi mereka. Misalnya saja jika anak kedua kami sudah mulai bisa memanjat ke tempat yang lebih tinggi saat bermain arena panjat di taman main. Dia akan sangat senang jika dipuji. Yah siapa yang tidak suka untuk dipuji yah.. Bahkan mamanya saja kalau dibilang makanannya paling enak saja sudah meleleh rasanya. hehe..

Tapi memang memuji anak atau mengkritik anak ini tanpa kita sadari, masih sulit untuk diungkapkan sepenuh hati atau tanpa jelas maksud kritikannya apa ke anak. Misalnya saja saat saya mengkritik putri pertama kami untuk tidak menyimpan minumannya di atas lemari. Putri kami awalnya tidak mau dipindahkan atau dilarang untuk berbuat seperti itu. Tapi ketika melihat adiknya mulai ikut-ikutan menirunya dan sempat terjatuh saat mengambil minumannya, nah disinilah kesempatan saya untuk menjelaskan ke kritikan awal tadi dengan ada alasan sebab akibatnya.

Balik lagi mungkin saat mengkritik, saya harus ingat dengan kalimat yang irit alias tidak bertele-tele sehingga mudah diterima anak. Kalimat yang hanya menekankan tidak boleh atau tidak baik itupun, kalau tidak ada alasannya kan tidak akan mudah diterima anak. Jadi belajar dengan pengalaman, saat anak membuat sesuatu perilaku yang kurang baik menurut kita, biasanya saya akan tanya dulu. Kenapa mereka berbuat begitu, lihat dari mana, tahu dari mana, apa yang dirasakan saat berbuat seperti itu, dan sebagainya. Sesuai dengan arah yang mana yang ingin saya kritik. Hal ini masih berlaku bagi anak pertama dan kedua yah, yang sudah mengenal lingkungan luar rumah. Karena anak ketiga kami masih full dirumah bersama saya. Biasanya dengan pembicaraan yang lebih hati ke hati, anak akan mulai menjelaskan kalau dia melihat dari temannya misalnya, atau hanya sekedar mendengar saja. Baru setelah itu saya menyarankan untuk tidak seperti itu, bagaimana sebaiknya. Kalau masih menolak tanggapan saya, biasanya akan saya biarkan dulu sambil memberi waktu dia berpikir.

Ternyata di poin Jelas Memberikan Pujian /Kritikan ini pun saya masih perlu banyak belajar. Bagaimana menenangkan diri terlebih dahulu sebelum mengkritik. Atau juga misalnya saat memuji seorang anak, dengan berusaha tidak menimbulkan iri saudaranya yang lain..

“Wuah, Ayuk hebat bisa buat itu dengan bagus” kata saya saat melihat hasil karya putri pertama kami. Anak kedua kami yang saat itu ada disana juga, mencoba tidak berkecil hati dengan bilang, ” Aku belum bisa buat itu ma. Tapi aku sudah bisa buat ini loh ma. Lihat deh” sambil menarik saya untuk melihat hasil gambarnya.

Yuk.. Melatih anak-anak juga diri kita sendiri untuk mengubah kata tidak bisa menjadi belum bisa, pasti bisa. Dan tetap terus belajar .. semangat!!

 

Aachen, 13-14 Juni 2017

#level1

#day9

#tantangan10 hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

Apa kata mama tadi?

Saya sering tanpa sadar memberikan instruksi ke anak-anak dengan cepat dan banyak.. Makanya tak jarang anak saya akan cepat merespon “Apa kata mama tadi? aku ngga ngerti”.. Kata-kata yang panjang dan menggunakan bahasa Indonesia yang jarang mereka pakai di luar  rumah, tentu saja mereka sering menemukan kesulitan untuk memahami apa yang sebenarnya saya instruksikan.

Kali ini saya mempraktekkan poin KISS (Keep Information Short & Simple) pada tantangan 10 hari di kelas Bunda Sayang ini. Dimana saya harus menantang diri saya untuk menggunakan kalimat tunggal, bukan kalimat majemuk dalam memberikan instruksi ke anak-anak misalnya. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, kendala bahasa yang mungkin ada kata-kata yang belum mereka pahami dan juga ketergesa-gesaan saya dalam memberikan instruksi yang hasilnya membuat anak saya tidak paham dan tidak menjalani instruksi yang saya minta.

“Nak, tolong bantu liatin adik yah, mama lagi masak.. tanggung nih, nanti Papa sebentar lagi pulang kok.”. Sebenarnya dari kalimat ini saya hanya minta anak sulung saya untuk menjaga adiknya selagi saya masak. Tapi dengan kalimat ini, anak saya kadang jadi menghampiri saya dan menanyakan lagi apa yang saya katakan.. hmm, jadi mengerti kan yah kenapa kita harus menggunakan kata-kata yang pendek kalau menginstruksikan anak.

Lain lagi dengan anak kedua kami, yang masih sangat harus singkat dan diperjelas lagi instruksinya. Misalnya, ” Ayo sudah waktunya tidur, sikat gigi, ke toilet dan tidur ya”.. Nah anak kedua ini uniknya suka membalik-balikkan instruksi. Jadi kadang diminta sikat gigi, dia maunya ke toilet dulu.. Belum lagi sebelum mengerjakan instruksi dia menanyakan kenapa harus begitu, atau kenapa harus begini. Kalau sudah terburu-buru, saya seringnya menyerahkan papanya yang bantu menjelaskan karena kata-kata papanya lebih irit dari mamanya. hehe..

Jadi saya pun mulai berlatih menggunakan kalimat tunggal tiap memberikan instruksi, misalnya ” Nak, tolongin mama ambilkan jemuran yah, di balkon”, ” Nak, tidak naik keatas ya, tanpa bantuan mama yah”. Saya pun mulai merasakan perbedaan jika menggunakan kalimat-kalimat tunggal tiap saya memberikan instruksi ke anak-anak. Mereka lebih memahami dan tanggap merespon apa yang saya minta. Tentu saja masih terus berlatih mengontrol intonasi dan mencoba terus untuk tersenyum..

Tantangan ini jujur masih terus memaksa saya mempelajari bagaimana menghadapinya, dengan keempat anak yang memiliki karakter beda-beda, tentunya penanganannya beda-beda juga. Yang kadang juga masih kecolongan melanggar beberapa poin yang pernah saya praktekkan, tapi inilah ya tantangan seorang ibu.. Harus keep strong walau suka melow.. hehe.

Moga ada manfaatnya yah..

Aachen, 11 Juni 2017

#level1
#day7
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Tiap anak itu pasti beda-beda..

Tiap anak itu pasti beda-beda.. iyakan ya? Beda anak beda semuanya.. Karena mengingat tiap anak ada bedanya itulah maka mengatasi tiap anak pasti beda juga.. Kalau anak sulung kami misalnya lebih suka membuat sesuatu ketrampilan, sementara anak kedua kami lebih suka menggambar .. Tapi untuk yang anak kedua kami ini, terkadang harus diberi ajakan dulu, belum ada inisiatif sendiri biasanya. Jika sedang akur, keduanya akan sama-sama buat ketrampilan yang mereka suka, misalnya membuat tempat tidur dari karton roll bekas tisu toilet menjadi tempat tidur untuk mainan playmobil mereka. Ide ini timbul dari hasil menonton youtube yang membuat anak sulung kami ingin mencobanya.

Berdasarkan pengalaman sebelumnya, jika lancar maka masing-masing anak akan mendapat hasil yang sama baiknya, saling bantu. Namun jika belum lancar, biasanya yang anak kedua akan menghampiri saya atau papanya. Kemudian laporan lah dia ke kami, ” Ma, tadi aku ga dikasih pinjam gunting” , “Pa, tadi aku ga dibolehin ikutan buat itu”. Kalau sudah dalam kondisi begini biasanya saya tawarkan pilihan ke anak kedua apakah ia ingin melanjutkan buat sama-sama dengan kakaknya atau menyudahi kegiatan itu. Jika masih mau, maka saya panggil kakaknya untuk mengklarifikasi ada apa sebenarnya, dan menawarkan boleh atau tidaknya adiknya ikutan membuat ketrampilan lagi bersamanya. Jika tidak mau lagi, biasanya saya akan tawarkan dia mengerjakan hal lainnya yang dia mau, dengan syarat merapihkan dulu apa yang sudah ia kerjakan. hmm, biasanya dia memilih untuk menyudahi dan tidak mau membereskannya sih, hehe.. yang akhirnya kadang masih dibantu untuk membereskannya.

Lain halnya dengan anak ketiga kami yang terkadang masih belum bisa diajak kerjasama dengan kakaknya.. Jika kakaknya sedang membuat ketrampilan atau menyusun balok lego misalnya, terkadang dia masih ikut-ikutan usil menganggu kakaknya. Jika hal ini yang terjadi biasanya saya selalu ajarkan ke kakaknya untuk memberikan dia satu atau dua mainan yang mereka pegang atau mencari pengganti mainan yang kira-kira dia minati sehingga tidak mengganggu mereka.. Ini pun bisa berhasil bisa tidak, jika tidak maka saatnya saya tarik dia dari area bersama kakaknya.. Dan mencoba mengalihkan sebisa mungkin dengan mainan yang lain yang ia minati.

Dengan membiasakan anak-anak kami memilih sendiri apa yang kami tawarkan, kami berharap mereka mengerjakan sesuatu atau mendapatkan sesuatu yang memang apa yang mereka inginkan. Terutama untuk anak sulung kami, karena kami tahu keinginannya lebih kuat jika menginginkan sesuatu, maka kami harus ekstra lebih memberikan pilihan-pilihan yang kreatif untuk bisa diterimanya. Misalnya seperti jika ia ingin membuat ketrampilan yang ia mau seperti slime, maka kami harus menanyakan dulu bahan apa yang ia butuhkan, bagaimana caranya, hal apa saja yang terkait dengan itu harus benar-benar disiapkan terlebih dahulu.. Apalagi jika saya belum bisa mendampingi terus-terusan dalam memprosesnya, maka tak jarang saya mengulur waktu agar menunggu si kecil tidur dulu supaya tidak mengganggu kakaknya atau saya serahkan bahan-bahannya ke dia untuk mencoba sendiri. Terkadang hal ini berhasil dan saya apresiasikan hasil karyanya itu.

Sejak anak-anak kami mulai masuk kindergarten, banyak hal yang saya temui di sana yang tentunya berbeda dengan apa yang saya temui di tanah air. Ada hal yang sampai sekarang saya masih terus belajar, yaitu untuk mengapresiasikan apa saja yang anak-anak buat. Melihat cara gurunya menghargai hasil karya anak-anak kami, membuat saya harus berlatih terus untuk lebih bisa menghargai hasil karya mereka.. Saya ingat betul , bagaimana sebuah coretan yang tidak jelas bentuknya, namun gurunya menanyakan ke anak saya apakah ini gambar ikan misalnya, dan ia mengiyakan maka ia kan tulis di gambar itu bahwa itu gambar ikan.. Padahal itu jauh sekali dari bentuk ikan, maka disinilah saya belajar melihat bahwa hal-hal kecil yang dilakukan anak jika diapresiasikan dengan baik, anak pun ikut senang. Bukan mengajarkan anak pamer jika dia bisa membuat sesuatu, tapi lebih menunjukkan kepadanya bahwa ia mampu untuk membuat sesuatu.. Saya bisa loh! Mungkin inilah tujuannya. Makanya ngga heran kalau tiap jemput anak-anak, biasanya pasti ada saja yang ingin mereka tunjukkan ke saya, apa yang mereka buat. Baik dikerjakan sendiri ataupun bersama gurunya.

Inilah yang saya dapat pelajari dari anak-anak, dengan memberikan pilihan-pilihan, memberikan apresiasi, maka anak-anak akan bisa melakukan sesuatu dengan baik dan tepat. Dan saya pun masih harus terus belajar… Mudah-mudahan bermanfaat..

Aachen, 9-10 Juni 2017

#level1
#day6
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

 

 

Jika gagal, coba lagi..

” Mama.. Mama..” panggil putri ketiga kami, saat saya sedang membaca Al qur’an atau saat sedang keasyikan membaca pesan whatssapp. Tak cukup hanya mengangguk atau melihat ke arahnya sejenak, tapi yang ia minta saya menatapnya sambil mendengarkan apa yang ia temukan atau ingin katakan.. Baru kali ini dia memanggil saya dengan caranya seperti itu. Saat saya menutup apa yang saya baca dan menatapnya dia pun baru menyampaikan apa yang ingin ia katakan. Walau belum lancar berbicara, tapi ia sangat antusias untuk menyampaikan sesuatu. Dan saya pun menyampaikan maaf karena tak langsung meresponnya.

Ternyata tak putri ketiga saya saja, tapi putri sulung dan kedua saya pun entah kenapa hari ini ingin meminta perhatian dan didengar. Jadi saat yang satu berbicara, yang lain ikut berbicara.. hmm, mamanya tiba-tiba pusing mendadak. hehe. Saya pun memberi kode ke putri kedua saya saat kakaknya sudah bicara lebih dulu, agar ia menunggu saat kakaknya selesai. Begitu keduanya selesai menyampaikan ceritanya masing-masing, saya pun menyampaikan ke keduanya, “kalau ingin bercerita satu-satu ya.. Mama kan ngga bisa mendengar cerita kalian sekaligus. Maaf ya yang lebih dulu bercerita itu yang sudah lebih dulu siap bercerita. Yang telat, harap sabar dan tunggu lah sampai yang satu lagi selesai. OK?”. Saya pun mengerti kenapa keduanya tiba-tiba seperti ini, karena suami saya sedang menginap di luar kota untuk semalam, jadi sayalah satu-satunya tempat penampung cerita mereka hari ini.

Belum sampai situ saja, saat mereka bermain pun, tak jarang ada saja yang tiba-tiba menangis, sedikit-sedikit mengadu tentang salah satu saudarinya yang mengganggu, dan yang lainnya. Biasanya saat saya sedang di dapur, suami saya yang akan menemani mereka, nah saat suami saya tak ada, ternyata saya cukup kewalahan juga. Saya ajak semuanya ke dapur, sambil saya ajak melihat bagaimana proses makanan yang akan saya siapkan untuk mereka. Tidak perlu ribet, mereka hanya meminta reibekuchen (seperti bakwan kentang) untuk malam ini. Hanya saja mngupas kentang yang lumayan menyita waktu. hehe..  Saat saya mengupas kentang, putri ketiga saya yang ikut memberikan kentangnya, putri  pertama dan kedua yang membantu saya menjaga si kecil.Dan akhirnya pun situasi mulai terkendali..

Hari ini, ada beberapa poin yang membuat saya merasa kalah dan bersalah. Anak pertama saya mulai meninggi lagi suaranya, anak kedua saya mulai tidak mau mendengarkan lagi nasehat kakaknya sehingga buat kakak nya marah, anak ketiga saya mulai mengganggu adiknya tidur lagi.. hmm.. Saya pun membatin sendiri dan beristighfar.. Mudah-mudahan kekalahan hari ini yang saya alami, dikarenakan kondisi saya yang sedang tidak fit ditambah suami saya yang tidak ada dirumah saat ini. Jadi kericuhan yang terjadi cukup membuat emosi saya cenderung menaik dan tidak stabil. Saya pun masih belajar mengontrol diri saya.

Inilah yang mungkin dibilang proses yah, terkadang ada yang berhasil dan terkadang bisa jadi gagal. Bagi saya, baiknya kita perlu tahu dulu dimana kesalahannya.. Kalaupun belum tahu, yah saya mulai mendamaikan diri saya dulu untuk mengintropeksi keslahan saya hari ini.. Maafin mama yah nak, yang jika hari ini mama belum bisa sepenuhnya mendengarkan cerita kalian..

” Ketika gagal, bukan berarti kita kalah” -Anonim-

Sekian dulu curhatan saya hari ini, hehe.. Moga ada manfaatnya.

Aachen, 7 Juni 2017

#level1
#day5
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

 

 

Berpuasa bagi anak-anak itu…

Bagaimana rasanya saat berpuasa? Anak kedua kami pun menjawab ” lapar, ma..” hehe.. Ini bisa jadi karena kamu kurang siap dalam sahurnya nak.. Mendengar keluhan anak kedua kami pun tak jarang membuka memori saya pribadi saat seusianya berlatih puasa. Menahan lapar, haus dan godaan makanan kesukaan membuat kadang ingin sekali berbuka secepatnya. Tantangan ini yang terus kami semangati kepada kedua putri kami yang masih berlatih puasa. Ditengah suasana berpuasa dirumah, terkadang masih saja tergoda saat adik kecil yang sedang mengemil snack kesukaan. hehe, padahal si kecil sudah dibilangin juga kakaknya sedang berpuasa, tapi toh kakaknya masih suka tergoda juga.

Melatih puasa anak-anak tidak kami paksakan, seperti postingan saya sebelumnya, saya pun menjelaskan lagi ke anak-anak bahwa puasa ini adalah latihan kita untuk menahan. Menahan amarah, lapar dan haus. Dan paling kami tekankan bahwa puasa ini bukan perintah kami, tapi perintah Allah. Bagi putri sulung kami mungkin sudah mulai terbiasa untuk berpuasa, hanya saja kadang masih suka belum mau istirahat untuk mengalihkan pikirannya, menghitung berapa lama lagi berbuka. Karena hal ini pun juga bisa jadi penghalang dia untuk bisa shalat Maghrib dan Isya. Hal inipun kami sering katakan supaya putri kami mau menuruti saran kami. Dan jika misalnya dia tidak mau pun, kami akan katakan bahwa ia yang akan merasakan nantinya, bedanya jika ia istirahat atau tidak. Karena putri kami ini sudah usia 8 tahun, jadi pola pikirnya pun sudah mulai bisa diajak memikirkan sebab akibatnya dari suatu peristiwa.

Bagi anak kedua kami, puasa ini masih terbilang sulit untuknya, tapi terus kami semangati bahwa dia bisa berpuasa. Asalkan persiapannya cukup, maka dia bisa menahan lapar. Walaupun akhirnya kami tawarkan jika sangat tak tertahankan, mereka boleh berbuka, setengah hari untuk berpuasa dan nanti saat winter tiba dicoba bersama lagi latihan puasa, seperti membayar qadha puasa. Kenapa saat winter? Karena winter itu waktu puasanya lebih pendek, dan memungkinkan untuk berpuasa lebih sering, insyaa Allah.. Tawaran ini pun diterima mereka dengan memastikan apakah mereka paham maksud kami mengajak mereka berlatih puasa.

img_3021

Puzzle yang paling senang putri ketiga kami mainkan karena sudah bisa bongkar pasang sendiri.

img_3017

puzzle yang belum untuk usianya, yang akhirnya mamanya diminta untuk membantunya menyelesaikannya. hehe

Lain halnya dengan putri ketiga kami, yang sedang senang memainkan puzzle.. Berbagai macam puzzle senang ia coba, yang untuk usianya yah. Walau kadang suka juga mengambil puzzle yang sulit, yang akhirnya memaksa mama atau papanya untuk membantunya menyelesaikan puzzle tersebut. Kami selalu ajak dia untuk bersama main, dan selalu bilang dia bisa menyelesaikannya sendiri. Hal ini membuat dia sering memberi tepuk tangan sendiri atau sekedar bilang bravo ke dirinya sendiri jika dia bisa mengerjakan sesuatu.

Di hari keempat ini saya masih memprioritaskan poin Mengendalikan emosi, Intonasi dan suara ramah, Mengatakan yang diinginkan dan juga Bisa! Keempat poin ini, masih terus saya latih ke empat putra putri saya. Putra kami yang masih usia 8 bulan pun ternyata beberapa hari ini mulai memperlihatkan keinginan apa saja yang kakaknya mainkan atau makan. Tak jarang putri ketiga kami dengan perhatiannya memberikan mainan puzzlenya saat dia sedang main puzzle juga. Hal ini sering kami apresiasikan juga, jika apa yang ia lakukan baik. Jika ternyata ada sesuatu yang belum boleh ia mainkan bersama adiknya, maka kami pun memberikan arahan apa yang tidak boleh dan menggantinya dengan yang sudah boleh ia mainkan. Walau kadang masih jadi pe er banget untuk saya dalam hal mengawasi atau mendampingi mereka setiap saat, di tengah tugas rutinitas rumahan saya lainnya.

Kurang lebih ini yang bisa saya share di hari ke empat tantangan di kelas bunsay. Moga ada manfaatnya yah.

Aachen, 5 Juni 2017

#level1
#day4
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

“Aku mau, Ma”

“Aku mau, ma”.. ujar putri ketiga kami, saat menginginkan apa yang sedang dimainkan kedua kakaknya.. Yah, setiap anak ini mulai menginginkan sesuatu yang belum boleh dimainkan untuknya, kami pun memutar otak mencari pengalih perhatiannya. Kadang mudah, kadang susah dan lebih sering menangis keras karena tak terpenuhi kemauannya.

Karena usianya yang masih belajar bicara, terkadang putri ketiga kami ini pun hanya bisa menangis atau bahkan merebut mainan yang kakaknya mainkan. Disinilah saya mulai melatih putri kami jika menginginkan sesuatu harus bilang atau minimal menunjuknya jika belum bisa bilangnya, tapi tidak merebutnya. Hal ini sudah mulai kami terapkan sebelumnya, kepada putri-putri kami. Terlebih barang yang terkadang didapat dari hadiah teman sekolah atau dari orang lain. hmm itu yang selalu bisa jadi rebutan.. Hal inilah yang menurut saya harus dilatih untuk dapat mengatakan apa yang diinginkan, supaya tidak melulu menangis atau jadi berantem dengan saudara.

Kami usahakan ketiga putri kami yang memiliki barang tersendiri mengerti bahwa itu barang mereka dan jika yang lain ingin main, boleh dipinjamkan. Misalnya, putri sulung kami memiliki boneka hadiah dari temannya. Putri kedua kami jadi iri dan mau juga main dengannya. Kami jelaskan bahwa dia boleh meminjamnya asal bilang dulu ke kakaknya, jika diijinkan maka dia bisa main juga dengan boneka itu. Yang paling penting adalah dia harus bilang dulu.

Lain lagi jika, hal-hal kecil seperti ketika saya menanyakan ingin apa untuk makan malam misalnya. Yang sulung sudah lebih bisa mengatakan keinginannya, yang kedua masih sulit mengatakan apa yang dia mau. Jadi biasanya saya anggap dia ikuti saja apa yang saya siapkan atau mengikuti apa yang kakaknya makan. Tak jarang dia jadi tidak suka, karena dia jadi mengalah terus. Lalu saya jelaskan lagi, kalau setiap saya tanyakan, maka dia harus bilang ingin apa. Lama kelamaan dia pun mulai bisa memilih sendiri apa yang dia inginkan.

Belakangan ini, saya juga sudah menantang buah hati saya untuk terus bicara atau berkomunikasi dengan bahasa Indonesia di rumah, terutama untuk putri kedua kami. Putri sulung yang sudah mulai banyak menyerap kata-kata bahasa Indonesia saat masih di Indonesia, terkadang tidak membuat kami sulit untuk berkomunikasi. Tapi paling tidak dia jadi mampu menjelaskan kepada kami jika ada sesuatu hal yang baru dia ketahui atau hanya sekedar bercerita.

Lain lagi dengan putri kedua kami, bagi dia lebih sulit untuk bicara bahasa percakapan Indonesia, jadi selalu menggabungkan kedua bahasa yang terkadang jadi lucu didengarnya.. Tapi saya selalu mengajak dia untuk bisa dan mau bicara bahasa Indonesia, sambil menjelaskan bahwa kita belum tentu dapat tinggal lama di Jerman dan suatu saat akan kembali ke Indonesia. Jadi harus bisa bercakap dengan bahasa tanah air dong yah.. hehe. Hal ini akibat kami sudah mulai memasukkan dia ke kindergarten saat dia belum usia 3 tahun. Dulu kami pikir dia akan senang bermain disana, karena kakaknya sudah lebih dulu ada disana. Tapi luput dari dugaan kami, untuk bahasa tentunya bahasa Jerman lah yang akan lebih banyak diserapnya karena durasi bermain di kindergarten cukup lama. Tiap harinya dari Senin-Jum’at mulai pukul 09.00 sampai pukul 15.30 atau bahkan lebih, kami boleh titipkan dia di kindergarten.  Jadi ngga heran kan kenapa bahasa Jermannya lebih jago daripada mamanya, hehe..

Maka dari itu, dengan adanya tantangan kelas Bunsay ini saya jadi ada tolak ukur untuk ketiga putri saya juga putra saya yang masih 8 bulan ini, untuk mulai bisa berlatih berkomunikasi dengan baik. Melatih saya pribadi untuk terus belajar berkomunikasi dengan anak-anak, dengan range umur yang masing-masing butuh penanganan beda-beda.

Poin yang sudah saya mulai latih yaitu, Mengendalikan Emosi, Intonasi dan Suara yang Ramah, juga sekaligus Mengatakan yang Diinginkan dan Bisa.. Semuanya akan dirasakan berhasil asalkan saya terus berlatih untuk konsisten ya. Karena setiap hari kan saya pasti dan terus berkomunikasi dengan mereka.. Terlebih saya berharap hingga dewasa nanti, kamipun dapat terus saling berkomunikasi dengan baik.

Oh iya, di tantangan ini sebenarnya juga menantang kami para bunda melatih komunikasi produktifnya dengan suami.. Saya belum berani bercerita hal menarik apa saja dari poin yang sudah diberikan. Tapi boleh lah saya selipkan hal menarik saat di bulan puasa ini, saya biasanya masih kesulitan mengatur waktu menyiapkan buka puasa karena waktunya bertepatan dengan jam makan anak-anak kami yang masih batita, belum lagi agenda belajar mengaji atau hal lainnya. Jadi saya mencari waktu yang tepat seperti saat anak-anak mulai tidur, atau misalnya saat sama-sama lagi di dapur dengan kondisi tidak ada anak-anak, saya mengatakan keinginan saya atau menanyakan sesuatu yang saya butuh persetujuan atau tanggapan suami. Seperti bulan puasa ini, suami saya yang lebih sering menyiapkan minuman untuk berbuka. Maka saya langsung utarakan saja, menanyakan bolehkah untuk masalah minuman saya serahkan ke suami, jadi saya bisa fokus untuk menyiapkan makanan saja. Dan suami pun setuju. Alhamdulillah.. Saya merasa teringankan.. hehe.. Memang kita sebagai suami istri harus saling yah..saling bantu saling ngemong dan saling sayang.. (hehe, tutup muka malu)

Sekian dulu dan moga saya tetap semangat mempraktekkan poin-poin yang sudah saya latih ya..

Aachen, 4 Juni 2017

#level1

#day3

#tantangan10 hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip