Belajar dari “Love Fate”

Love fate dan secangkir espresso, kombinasi yg pas saat santai.

Love fate dan secangkir espresso, kombinasi yg pas saat santai.

“Biar bagaimanapun, aku masih menyimpan harap bahwa derita ini akan berakhir bahagia tanpa membahas panjang lebar kepada mereka.”(hal.138)

Belum memiliki keturunan dalam pernikahan pasti akan selalu menjadi tanda tanya bagi tiap orang. Terlebih jika usia pernikahan mulai menapaki angka 5 tahun. Antara bosan dan sedih mendengar pertanyaan yang kerap kali dilontarkan..

Cerita dalam novel fiksi yang ditulis oleh teh Sari Agustia ini mengangkat kisah Tessa dan Bhas yang sudah menikah selama 5 tahun namun belum dikaruniai anak. Pasangan yang sama-sama berkomitmen dengan kariernya masing-masing ini sebenarnya tidak terlalu memusingkan dengan ada atau belum adanya keturunan. Hanya saja sejak pulang dari acara pernikahan adik bungsu Bhas, Indah, sepertinya kondisi Tessa tidak senyaman seperti sebelumnya.

Terlebih hubungan komunikasi antara Tessa dan mertuanya, sang ibu dari Bhas bisa dibilang kurang baik.” .. Terus terang, aku bukan termasuk menantu yang menantikan temu muka dengan mertua kesayangan. Kalau ada alasan yang bisa dicari, pasti aku akan memilih untuk tak datang.” (hal.8)

Belum lagi, pertanyaan yang datang kala di acara pernikahan Indah. Membuat Tessa, mulai berpikir untuk memiliki keturunan dimulai dengan memeriksakan dirinya ke dokter spesialis kesuburan. Keputusan yang mendadak membuat Bhas sedikit kaget ini ternyata juga berlandaskan dari rasa sepi yang mulai menghantui Tessa dikala sendiri dirumah.

Bermula dari keputusan itulah konflik komunikasi antara suami istri ini mulai memuncak. Sikap dingin Bhas, antusias Tessa, seakan sikap yang bertolak belakang sekali. Ditambah dengan pertemuan dengan teman lama Tessa bernama Esme, perkenalan dengan mba Kanti sang cleaning service, membuat novel ini makin dramatis.

Tidak bisa dipungkiri jika pernikahan yang sempat tidak diiringi dengan restu seorang ibu, bisa jadi membawa ujian tersendiri. Dalam kisah ini, digambarkan bagaimana Bhas (yang dibuat penulis seakan bercerita juga dalam 2 bab) menjelaskan sedikit alasan ibunya tak merestui Tessa sebagai jodohnya. Hingga akhirnya hubungan ibu anak ini pula yang membuat Tessa menjadi sedih bukan main.

“Kalian sudah lama berumah tangga. Kudu leuwih sabar. Orang berkeluarga ada tidak ada anak akan ada cobaannya. Tapi, Ambu berharap kalian selalu kompak dan saling mendukung.” (hal.94)

Kutipan dari Ambu, ibu Tessa diatas bisa jadi nasehat untuk tiap pasangan yah untuk menjalani bahtera rumah tangga.

Dibungkus dengan cover buku warna pink yang kalem, novel ini mempunyai daya tarik sendiri. Bergambar siluet dua orang yang duduk, dan salah satunya yang memangku anak kecil, mewakili isi cerita novel ini. Dengan judul Love Fate, yang huruf A terbuat sedikit menggantung seakan juga menggambarkan kehidupan Tessa yang sering dibuat menggantung dengan sikap Bhas.

Novel perdana teh Sari Agustia ini, memiliki alur cerita yang menarik. Walau ada beberapa bagian cerita yang tidak perlu diahas terlalu lebar seperti kasus Lapindo, tapi setidaknya ada informasi tambahan bagi pembaca. Menggunakan latar belakang Jawa dan Sunda, yang sedikit membawa ingatan saya akan kehidupan asli dari penulis. Istilah bahasa Sunda dan Jawa yang terselip di berbagai percakapan membuat pembaca jadi belajar bahasa juga. Ditambah dengan beberapa prosesi adat pernikahan Jawa yang sedikit digambarkan saat pernikahan Indah, seperti Adol Dhawet, Bubak Kawah, Tumplek Punjen menambah wawasan pembaca akan prosesi budaya Jawa.

Secara keseluruhan, saya sebagai pembaca bisa ikut merasakan bagaimana rasanya berada di posisi Tessa, wanita yang menikah dengan karir bagus tapi belum dikaruniai keturunan, dan juga menghadapi dengan permasalahan sosial lainnya yang kerap terjadi di masyarakat kita. Ditambah dengan gregetan sama sikap Bhas, hehe..

Memiliki keturunan itu bukan sekedar memaksakan mewujudkan impian bagi suatu pasangan, tapi terlebih membiarkan Yang Maha Kuasa berkehendak impian apa yang pantas bagi pasangan tersebut.

Pre Order Love Fate dapat bonus cantik dari Teh Sari Agustia .. Danke :)

Pre Order Love Fate dapat bonus cantik dari Teh Sari Agustia .. Danke ๐Ÿ™‚

Judul : Love Fate

Penulis : Sari Agustia

Editor : Pradita Seti Rahayu

Penerbit : P. T. Elex Media Komputindo

Terbit : 2015

Tebal : 228 halaman

ISBN : 978-602-02-6097-6

Terus berkarya ya teh, moga makin mateng menulisnya, makin informatif, dan bisa menghibur. Diselingi dengan dakwah juga lebih baik. Do’akan saya menyusul buat buku juga yah.. hehe ๐Ÿ™‚

Ikut baca juga ya.. pesan Sa'uda.. ;)

Ikut baca juga ya.. pesan Sa’uda.. ๐Ÿ˜‰

Iklan

4 thoughts on “Belajar dari “Love Fate”

  1. Mardha, thx buat reviewnya y, semoga sukses selalu buat mardha dan 3S nan cantik dan solehah. Doain aja biar lancar nulisnya dan ayo segera menyusul!! hihihi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s