Komunikasi Keluargaku

Bismillah..

Memutuskan untuk mengikuti perkuliahan Institut Ibu Profesional adalah sebuah langkah buat saya pribadi untuk mencoba memperbaiki kesalahan-kesalahan yang saya rasakan sebelumnya. dimulai dengan kelas matrikulasi, saya pelan-pelan mulai mengerti bahwa saya banyak ketinggalan.. Maka dari itu saya tidak mau juga ketinggalan untuk mengikuti kelas Bunda Sayang ini, dimana akan banyak ilmu-ilmu positif dan juga game berupa tantangan buat saya dan teman-teman yang bergabung untuk belajar jadi ibu yang lebih baik lagi.

Nah di tantangan pertama ini, kami diminta untuk belajar komunikasi produktif bersama anak dan juga pasangan. Kali ini saya memilih pada komunikasi produktif pada anak di poin Intonasi dan suara yang ramah.

Dilahirkan dari keluarga yang tidak jarang menggunakan intonasi agak keras membuat saya terbawa ke kebiasaan saya sekarang dalam berbicara dengan anak ataupun suami.. Sadar atau tidak kadang membuat saya tidak nyaman juga di saat menggunakan nada tinggi saat menasehati misalnya. Apalagi saat saya mendengar anak saya yang pertama mulai mengikuti cara komunikasi saya yang berintonasi tinggi saat menasehati adiknya.. Sentak hal ini membuat saya beristighfar dan merasakan bahwa anak saya sudah mulai mencopy kebiasaan saya ini..

Disinilah saya mulai berusaha bahwa poin ini harus diutamakan dulu. Karena tidak nyaman rasanya, jika melihat sulung saya berbicara dengan adiknya dengan intonasi yang tinggi, kemudian anak kedua menirunya ke adiknya lagi, dan saya tidak mau ini berlanjut dengan adiknya lagi.

Misalnya hari ini ketika anak sulung saya hendak bersiap ke sekolah dan tiba-tiba bicara dengan intonasi tinggi, “Mama, kenapa tadi tidak dibangunkan untuk sahur?” . Saya pun hanya tersenyum, dan suami saya pun membantu menjelaskan bahwa dia sudah dicoba dibangunkan beberapa kali tapi tidak bangun.. Akhirnya dia pun bilang ” aku tidurnya nyenyak sekali yah, ma” sambil tersenyum minta maaf..

Kemudian saya lanjutkan dengan menyiapkan bekal untuk dia ke sekolah, saya mencoba bertanya langsung menghampiri anak-anak ingin sarapan apa. Bagi saya cara menghampiri anak-anak untuk bertanya pun membuat saya mengurangi intonasi saya dalam berbicara kepada mereka.. Anak-anakpun juga tidak perluberteriak menjawab pertanyaan saya. Mudah-mudahan cara ini bisa berhasil yah..

Yah memang tidak jarang anak sulung ini selalu bicara dengan intonasi yang kadang kurang ramah buat saya juga suami, terlebih lingkungannya yang dari berbagai macam budaya dan negara. Bisa jadi karena mulai terbawa budaya tempat kami tinggal sekarang. Tapi kami percaya bahwa dari lingkungan keluarga yang baik, anak-anak kami dapat mulai tertanamkan akhlak yang baik pula.. Insyaa Allah..

Moga hari berikutnya bisa berhasil juga ke adik-adiknya.. Semangat!!

Aachen, 1 Juni 2017

#level1

#day1

#tantangan10 hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s