“Aku mau, Ma”

“Aku mau, ma”.. ujar putri ketiga kami, saat menginginkan apa yang sedang dimainkan kedua kakaknya.. Yah, setiap anak ini mulai menginginkan sesuatu yang belum boleh dimainkan untuknya, kami pun memutar otak mencari pengalih perhatiannya. Kadang mudah, kadang susah dan lebih sering menangis keras karena tak terpenuhi kemauannya.

Karena usianya yang masih belajar bicara, terkadang putri ketiga kami ini pun hanya bisa menangis atau bahkan merebut mainan yang kakaknya mainkan. Disinilah saya mulai melatih putri kami jika menginginkan sesuatu harus bilang atau minimal menunjuknya jika belum bisa bilangnya, tapi tidak merebutnya. Hal ini sudah mulai kami terapkan sebelumnya, kepada putri-putri kami. Terlebih barang yang terkadang didapat dari hadiah teman sekolah atau dari orang lain. hmm itu yang selalu bisa jadi rebutan.. Hal inilah yang menurut saya harus dilatih untuk dapat mengatakan apa yang diinginkan, supaya tidak melulu menangis atau jadi berantem dengan saudara.

Kami usahakan ketiga putri kami yang memiliki barang tersendiri mengerti bahwa itu barang mereka dan jika yang lain ingin main, boleh dipinjamkan. Misalnya, putri sulung kami memiliki boneka hadiah dari temannya. Putri kedua kami jadi iri dan mau juga main dengannya. Kami jelaskan bahwa dia boleh meminjamnya asal bilang dulu ke kakaknya, jika diijinkan maka dia bisa main juga dengan boneka itu. Yang paling penting adalah dia harus bilang dulu.

Lain lagi jika, hal-hal kecil seperti ketika saya menanyakan ingin apa untuk makan malam misalnya. Yang sulung sudah lebih bisa mengatakan keinginannya, yang kedua masih sulit mengatakan apa yang dia mau. Jadi biasanya saya anggap dia ikuti saja apa yang saya siapkan atau mengikuti apa yang kakaknya makan. Tak jarang dia jadi tidak suka, karena dia jadi mengalah terus. Lalu saya jelaskan lagi, kalau setiap saya tanyakan, maka dia harus bilang ingin apa. Lama kelamaan dia pun mulai bisa memilih sendiri apa yang dia inginkan.

Belakangan ini, saya juga sudah menantang buah hati saya untuk terus bicara atau berkomunikasi dengan bahasa Indonesia di rumah, terutama untuk putri kedua kami. Putri sulung yang sudah mulai banyak menyerap kata-kata bahasa Indonesia saat masih di Indonesia, terkadang tidak membuat kami sulit untuk berkomunikasi. Tapi paling tidak dia jadi mampu menjelaskan kepada kami jika ada sesuatu hal yang baru dia ketahui atau hanya sekedar bercerita.

Lain lagi dengan putri kedua kami, bagi dia lebih sulit untuk bicara bahasa percakapan Indonesia, jadi selalu menggabungkan kedua bahasa yang terkadang jadi lucu didengarnya.. Tapi saya selalu mengajak dia untuk bisa dan mau bicara bahasa Indonesia, sambil menjelaskan bahwa kita belum tentu dapat tinggal lama di Jerman dan suatu saat akan kembali ke Indonesia. Jadi harus bisa bercakap dengan bahasa tanah air dong yah.. hehe. Hal ini akibat kami sudah mulai memasukkan dia ke kindergarten saat dia belum usia 3 tahun. Dulu kami pikir dia akan senang bermain disana, karena kakaknya sudah lebih dulu ada disana. Tapi luput dari dugaan kami, untuk bahasa tentunya bahasa Jerman lah yang akan lebih banyak diserapnya karena durasi bermain di kindergarten cukup lama. Tiap harinya dari Senin-Jum’at mulai pukul 09.00 sampai pukul 15.30 atau bahkan lebih, kami boleh titipkan dia di kindergarten.  Jadi ngga heran kan kenapa bahasa Jermannya lebih jago daripada mamanya, hehe..

Maka dari itu, dengan adanya tantangan kelas Bunsay ini saya jadi ada tolak ukur untuk ketiga putri saya juga putra saya yang masih 8 bulan ini, untuk mulai bisa berlatih berkomunikasi dengan baik. Melatih saya pribadi untuk terus belajar berkomunikasi dengan anak-anak, dengan range umur yang masing-masing butuh penanganan beda-beda.

Poin yang sudah saya mulai latih yaitu, Mengendalikan Emosi, Intonasi dan Suara yang Ramah, juga sekaligus Mengatakan yang Diinginkan dan Bisa.. Semuanya akan dirasakan berhasil asalkan saya terus berlatih untuk konsisten ya. Karena setiap hari kan saya pasti dan terus berkomunikasi dengan mereka.. Terlebih saya berharap hingga dewasa nanti, kamipun dapat terus saling berkomunikasi dengan baik.

Oh iya, di tantangan ini sebenarnya juga menantang kami para bunda melatih komunikasi produktifnya dengan suami.. Saya belum berani bercerita hal menarik apa saja dari poin yang sudah diberikan. Tapi boleh lah saya selipkan hal menarik saat di bulan puasa ini, saya biasanya masih kesulitan mengatur waktu menyiapkan buka puasa karena waktunya bertepatan dengan jam makan anak-anak kami yang masih batita, belum lagi agenda belajar mengaji atau hal lainnya. Jadi saya mencari waktu yang tepat seperti saat anak-anak mulai tidur, atau misalnya saat sama-sama lagi di dapur dengan kondisi tidak ada anak-anak, saya mengatakan keinginan saya atau menanyakan sesuatu yang saya butuh persetujuan atau tanggapan suami. Seperti bulan puasa ini, suami saya yang lebih sering menyiapkan minuman untuk berbuka. Maka saya langsung utarakan saja, menanyakan bolehkah untuk masalah minuman saya serahkan ke suami, jadi saya bisa fokus untuk menyiapkan makanan saja. Dan suami pun setuju. Alhamdulillah.. Saya merasa teringankan.. hehe.. Memang kita sebagai suami istri harus saling yah..saling bantu saling ngemong dan saling sayang.. (hehe, tutup muka malu)

Sekian dulu dan moga saya tetap semangat mempraktekkan poin-poin yang sudah saya latih ya..

Aachen, 4 Juni 2017

#level1

#day3

#tantangan10 hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

Iklan

2 thoughts on ““Aku mau, Ma”

  1. Semangat mbak! Pasti bisa. Masalah bahasa memang agak sulit ya, samir sejak lahir selalu di ajak ngomong pake bahasa Romania sama papanya, tau deh liat nanti sampe gede kira2 bahasanya diserap atau tidak ya sama dia,hehe.

    • Iya mba, walau banyak juga teman yang bilang nanti juga bisa kok. tapi kok yah saya masih aja inginnya mereka sudahlbh siap dan bisa bahasa Indonesia saat pulang nanti.
      Insyaa Allah anak itu bisa menyerap berbagai bahasa sih mba, diliat yang mana ibunya lebih sering pakai. atau lingkungannya yang pakai. jadi keren ah nanti Samir bisa bahasa Romania.. hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s