Tiap anak itu pasti beda-beda..

Tiap anak itu pasti beda-beda.. iyakan ya? Beda anak beda semuanya.. Karena mengingat tiap anak ada bedanya itulah maka mengatasi tiap anak pasti beda juga.. Kalau anak sulung kami misalnya lebih suka membuat sesuatu ketrampilan, sementara anak kedua kami lebih suka menggambar .. Tapi untuk yang anak kedua kami ini, terkadang harus diberi ajakan dulu, belum ada inisiatif sendiri biasanya. Jika sedang akur, keduanya akan sama-sama buat ketrampilan yang mereka suka, misalnya membuat tempat tidur dari karton roll bekas tisu toilet menjadi tempat tidur untuk mainan playmobil mereka. Ide ini timbul dari hasil menonton youtube yang membuat anak sulung kami ingin mencobanya.

Berdasarkan pengalaman sebelumnya, jika lancar maka masing-masing anak akan mendapat hasil yang sama baiknya, saling bantu. Namun jika belum lancar, biasanya yang anak kedua akan menghampiri saya atau papanya. Kemudian laporan lah dia ke kami, ” Ma, tadi aku ga dikasih pinjam gunting” , “Pa, tadi aku ga dibolehin ikutan buat itu”. Kalau sudah dalam kondisi begini biasanya saya tawarkan pilihan ke anak kedua apakah ia ingin melanjutkan buat sama-sama dengan kakaknya atau menyudahi kegiatan itu. Jika masih mau, maka saya panggil kakaknya untuk mengklarifikasi ada apa sebenarnya, dan menawarkan boleh atau tidaknya adiknya ikutan membuat ketrampilan lagi bersamanya. Jika tidak mau lagi, biasanya saya akan tawarkan dia mengerjakan hal lainnya yang dia mau, dengan syarat merapihkan dulu apa yang sudah ia kerjakan. hmm, biasanya dia memilih untuk menyudahi dan tidak mau membereskannya sih, hehe.. yang akhirnya kadang masih dibantu untuk membereskannya.

Lain halnya dengan anak ketiga kami yang terkadang masih belum bisa diajak kerjasama dengan kakaknya.. Jika kakaknya sedang membuat ketrampilan atau menyusun balok lego misalnya, terkadang dia masih ikut-ikutan usil menganggu kakaknya. Jika hal ini yang terjadi biasanya saya selalu ajarkan ke kakaknya untuk memberikan dia satu atau dua mainan yang mereka pegang atau mencari pengganti mainan yang kira-kira dia minati sehingga tidak mengganggu mereka.. Ini pun bisa berhasil bisa tidak, jika tidak maka saatnya saya tarik dia dari area bersama kakaknya.. Dan mencoba mengalihkan sebisa mungkin dengan mainan yang lain yang ia minati.

Dengan membiasakan anak-anak kami memilih sendiri apa yang kami tawarkan, kami berharap mereka mengerjakan sesuatu atau mendapatkan sesuatu yang memang apa yang mereka inginkan. Terutama untuk anak sulung kami, karena kami tahu keinginannya lebih kuat jika menginginkan sesuatu, maka kami harus ekstra lebih memberikan pilihan-pilihan yang kreatif untuk bisa diterimanya. Misalnya seperti jika ia ingin membuat ketrampilan yang ia mau seperti slime, maka kami harus menanyakan dulu bahan apa yang ia butuhkan, bagaimana caranya, hal apa saja yang terkait dengan itu harus benar-benar disiapkan terlebih dahulu.. Apalagi jika saya belum bisa mendampingi terus-terusan dalam memprosesnya, maka tak jarang saya mengulur waktu agar menunggu si kecil tidur dulu supaya tidak mengganggu kakaknya atau saya serahkan bahan-bahannya ke dia untuk mencoba sendiri. Terkadang hal ini berhasil dan saya apresiasikan hasil karyanya itu.

Sejak anak-anak kami mulai masuk kindergarten, banyak hal yang saya temui di sana yang tentunya berbeda dengan apa yang saya temui di tanah air. Ada hal yang sampai sekarang saya masih terus belajar, yaitu untuk mengapresiasikan apa saja yang anak-anak buat. Melihat cara gurunya menghargai hasil karya anak-anak kami, membuat saya harus berlatih terus untuk lebih bisa menghargai hasil karya mereka.. Saya ingat betul , bagaimana sebuah coretan yang tidak jelas bentuknya, namun gurunya menanyakan ke anak saya apakah ini gambar ikan misalnya, dan ia mengiyakan maka ia kan tulis di gambar itu bahwa itu gambar ikan.. Padahal itu jauh sekali dari bentuk ikan, maka disinilah saya belajar melihat bahwa hal-hal kecil yang dilakukan anak jika diapresiasikan dengan baik, anak pun ikut senang. Bukan mengajarkan anak pamer jika dia bisa membuat sesuatu, tapi lebih menunjukkan kepadanya bahwa ia mampu untuk membuat sesuatu.. Saya bisa loh! Mungkin inilah tujuannya. Makanya ngga heran kalau tiap jemput anak-anak, biasanya pasti ada saja yang ingin mereka tunjukkan ke saya, apa yang mereka buat. Baik dikerjakan sendiri ataupun bersama gurunya.

Inilah yang saya dapat pelajari dari anak-anak, dengan memberikan pilihan-pilihan, memberikan apresiasi, maka anak-anak akan bisa melakukan sesuatu dengan baik dan tepat. Dan saya pun masih harus terus belajar… Mudah-mudahan bermanfaat..

Aachen, 9-10 Juni 2017

#level1
#day6
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s