Apa kata mama tadi?

Saya sering tanpa sadar memberikan instruksi ke anak-anak dengan cepat dan banyak.. Makanya tak jarang anak saya akan cepat merespon “Apa kata mama tadi? aku ngga ngerti”.. Kata-kata yang panjang dan menggunakan bahasa Indonesia yang jarang mereka pakai di luar  rumah, tentu saja mereka sering menemukan kesulitan untuk memahami apa yang sebenarnya saya instruksikan.

Kali ini saya mempraktekkan poin KISS (Keep Information Short & Simple) pada tantangan 10 hari di kelas Bunda Sayang ini. Dimana saya harus menantang diri saya untuk menggunakan kalimat tunggal, bukan kalimat majemuk dalam memberikan instruksi ke anak-anak misalnya. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, kendala bahasa yang mungkin ada kata-kata yang belum mereka pahami dan juga ketergesa-gesaan saya dalam memberikan instruksi yang hasilnya membuat anak saya tidak paham dan tidak menjalani instruksi yang saya minta.

“Nak, tolong bantu liatin adik yah, mama lagi masak.. tanggung nih, nanti Papa sebentar lagi pulang kok.”. Sebenarnya dari kalimat ini saya hanya minta anak sulung saya untuk menjaga adiknya selagi saya masak. Tapi dengan kalimat ini, anak saya kadang jadi menghampiri saya dan menanyakan lagi apa yang saya katakan.. hmm, jadi mengerti kan yah kenapa kita harus menggunakan kata-kata yang pendek kalau menginstruksikan anak.

Lain lagi dengan anak kedua kami, yang masih sangat harus singkat dan diperjelas lagi instruksinya. Misalnya, ” Ayo sudah waktunya tidur, sikat gigi, ke toilet dan tidur ya”.. Nah anak kedua ini uniknya suka membalik-balikkan instruksi. Jadi kadang diminta sikat gigi, dia maunya ke toilet dulu.. Belum lagi sebelum mengerjakan instruksi dia menanyakan kenapa harus begitu, atau kenapa harus begini. Kalau sudah terburu-buru, saya seringnya menyerahkan papanya yang bantu menjelaskan karena kata-kata papanya lebih irit dari mamanya. hehe..

Jadi saya pun mulai berlatih menggunakan kalimat tunggal tiap memberikan instruksi, misalnya ” Nak, tolongin mama ambilkan jemuran yah, di balkon”, ” Nak, tidak naik keatas ya, tanpa bantuan mama yah”. Saya pun mulai merasakan perbedaan jika menggunakan kalimat-kalimat tunggal tiap saya memberikan instruksi ke anak-anak. Mereka lebih memahami dan tanggap merespon apa yang saya minta. Tentu saja masih terus berlatih mengontrol intonasi dan mencoba terus untuk tersenyum..

Tantangan ini jujur masih terus memaksa saya mempelajari bagaimana menghadapinya, dengan keempat anak yang memiliki karakter beda-beda, tentunya penanganannya beda-beda juga. Yang kadang juga masih kecolongan melanggar beberapa poin yang pernah saya praktekkan, tapi inilah ya tantangan seorang ibu.. Harus keep strong walau suka melow.. hehe.

Moga ada manfaatnya yah..

Aachen, 11 Juni 2017

#level1
#day7
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s