Yeah, kamu bisa..

“Yeah, bravo!” ujar putri ketiga kami sambil tepuk tangan ketika ia menyaksikan adiknya mulai merangkak. Memang sudah dinanti-nanti merangkaknya adik oleh kami, yang sekarang sudah dengan cepatnya kesana kemari.

Menyaksikan reaksi putri ketiga kami ini, kami jelas melihat bahwa dia memuji si adik dengan gaya yang sama dengan kakaknya contohkan atau dari kebiasaan saya. Disini kami mulai memberikan contoh bagaimana memberi pujian kecil bagi siapa yang sudah bisa melakukan sesuatu yang baru bagi mereka. Misalnya saja jika anak kedua kami sudah mulai bisa memanjat ke tempat yang lebih tinggi saat bermain arena panjat di taman main. Dia akan sangat senang jika dipuji. Yah siapa yang tidak suka untuk dipuji yah.. Bahkan mamanya saja kalau dibilang makanannya paling enak saja sudah meleleh rasanya. hehe..

Tapi memang memuji anak atau mengkritik anak ini tanpa kita sadari, masih sulit untuk diungkapkan sepenuh hati atau tanpa jelas maksud kritikannya apa ke anak. Misalnya saja saat saya mengkritik putri pertama kami untuk tidak menyimpan minumannya di atas lemari. Putri kami awalnya tidak mau dipindahkan atau dilarang untuk berbuat seperti itu. Tapi ketika melihat adiknya mulai ikut-ikutan menirunya dan sempat terjatuh saat mengambil minumannya, nah disinilah kesempatan saya untuk menjelaskan ke kritikan awal tadi dengan ada alasan sebab akibatnya.

Balik lagi mungkin saat mengkritik, saya harus ingat dengan kalimat yang irit alias tidak bertele-tele sehingga mudah diterima anak. Kalimat yang hanya menekankan tidak boleh atau tidak baik itupun, kalau tidak ada alasannya kan tidak akan mudah diterima anak. Jadi belajar dengan pengalaman, saat anak membuat sesuatu perilaku yang kurang baik menurut kita, biasanya saya akan tanya dulu. Kenapa mereka berbuat begitu, lihat dari mana, tahu dari mana, apa yang dirasakan saat berbuat seperti itu, dan sebagainya. Sesuai dengan arah yang mana yang ingin saya kritik. Hal ini masih berlaku bagi anak pertama dan kedua yah, yang sudah mengenal lingkungan luar rumah. Karena anak ketiga kami masih full dirumah bersama saya. Biasanya dengan pembicaraan yang lebih hati ke hati, anak akan mulai menjelaskan kalau dia melihat dari temannya misalnya, atau hanya sekedar mendengar saja. Baru setelah itu saya menyarankan untuk tidak seperti itu, bagaimana sebaiknya. Kalau masih menolak tanggapan saya, biasanya akan saya biarkan dulu sambil memberi waktu dia berpikir.

Ternyata di poin Jelas Memberikan Pujian /Kritikan ini pun saya masih perlu banyak belajar. Bagaimana menenangkan diri terlebih dahulu sebelum mengkritik. Atau juga misalnya saat memuji seorang anak, dengan berusaha tidak menimbulkan iri saudaranya yang lain..

“Wuah, Ayuk hebat bisa buat itu dengan bagus” kata saya saat melihat hasil karya putri pertama kami. Anak kedua kami yang saat itu ada disana juga, mencoba tidak berkecil hati dengan bilang, ” Aku belum bisa buat itu ma. Tapi aku sudah bisa buat ini loh ma. Lihat deh” sambil menarik saya untuk melihat hasil gambarnya.

Yuk.. Melatih anak-anak juga diri kita sendiri untuk mengubah kata tidak bisa menjadi belum bisa, pasti bisa. Dan tetap terus belajar .. semangat!!

 

Aachen, 13-14 Juni 2017

#level1

#day9

#tantangan10 hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s