Menulis Angka dan Huruf

Bismillah..

Hari ini kembali jadi muhasabah diri saya pribadi. Dimana dengan datangnya ujian yang menanti butuh kesabaran, harus dipasrahkan kepada Yang Maha Kuasa, hasilnya moga kami sekeluarga menjadi lebih baik.

Disamping ujian itu, rutinitas harian harus tetap jalan. Mengantarkan Syahma ke sekolah, dan menjemputnya lagi.. Dan hari ini saya kembali diingatkan bahwa Syahma terkadang masih salah arah dalam menuliskan angka atau huruf. Melihat tugas yang dibawa kerumahnya ada catatan kecil dari gurunya agar membetulkan tulisan angka 8 nya, saya jadi tertantang untuk mengajak dia berlatih lagi menulis di rumah. Walau sebenarnya dulu juga dia sudah sering ikut-ikutan menulis angka dan huruf dengan Salwa, tapi ya itulah masih butuh latihan mungkin. Bahkan saya ingat dia dulu pernah latihan menulis mengikuti tulisan saya A-Z tapi dia menulisnya seperti cermin, jadi arahnya banyak yang terbalik.. hehe..

Di tempat kami tinggal sekarang,  anak-anak memang belum diajarkan menulis saat masih di kindergarten, justru kelas 1 itu benar-benar mereka baru belajar menulis mengenal angka dan huruf. Jadi dalam 4 bulan ini sejak Syahma berada kelas 1, dia baru belajar menulis angka 0-9 dan mengenal beberapa huruf.. Nah karena baru inilah, setelah saya perhatikan Syahma masih saja tertukar menulis angka 7 arahnya terbalik misalnya, atau angka 8 yang ia tulis mulai dari bawah.

P1140473

salah satu catatan kecil yang diberi guru Syahma untuk menulis angka 8

Saya pun mengajak Syahma untuk menulis angka 6, 7 dan 8 nya sesuai dengan yang diajarkan gurunya, sambil mengulang apa yang dipelajarinya di sekolah tentang angka. Alhamdulillah dia masih mau dikoreksi untuk menulis yang benar, hanya butuh kesabaran saja dan terus diingatkan. Dsini saya masih memudahkan dia untuk mengikuti arahan menulis angka, dengan mengikuti garis-garis putus untuk angka.

Sesekali saya pun mengajak dia berhitung sambil bercerita. “Tadi mama beli Jeruk loh, Sa’uda sama Zubair sudah makan 3 jeruk. Sebelumnya mama hitung satu kantung jeruk isinya ada 10. Jadi sekarang tinggal berapa ya?” Alhamdulillah dia mulai bisa menjawab benar, “Sisa 7, ma”.

Tadi siang saat saya ingin menemui Salwa dan papanya di rumah sakit, selama perjalanan di bis, saya mengajak Sa’uda yang senang melihat jalanan. Saya pun ajak dia menyebutkan warna apa mobil yang sedang berhenti atau yang kita lihat bersama. Entah kenapa dia lebih kenal dan menyebut warnanya pakai bahasa Inggris, dibanding Indonesia. Hmm, masih ada pe er tambahan nih. Masih juga senang menghitung pesawat ada berapa yang di langit. Atau juga saya mengenalkan konsep atas bawah saat kami sedang berada di atas gedung, atau sedang melintasi jembatan yang di bawahnya ada mobil lewat. Jadi dia tahu kalau ada mobil di bawahnya, berarti dia sedang di atas.

Masih banyak pe er untuk menjalankan tantangan kali ini dengan adanya ujian kesabaran yang lain. Semoga Allah berikan kami ilmu dan petunjuk Nya sebagai orangtua dalam mendampingi anak-anak belajar ilmu kehidupan.

Semangat yah Moms.. (Fighting!)

Aachen, 28 November 2017

#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs

 

 

 

Iklan

Tanganku ada dua..

Bismillah..

Tanganku ada dua, yang kanan dan kiri..

Kaki ku ada dua, yang kanan dan kiri..

Berjalan dengan kaki, kaki sendiri..

Menyanyikan lagu itu sambil mengajak si kecil Zubair bergerak atau sambil menggantikan celananya, terkadang berhasil membuat dia jadi diam dan memperhatikan saya bernyanyi.. Membuat kontak mata dan sesekali mengajak dia membuat gerakan yang lucu hingga dia tertawa..

Yang punya balita pasti pernah mengalaminya, saat menggantikan baju si anak sukanya merangkak atau berjalan menjauh, dan jadi kejar-kejaran.. Atau saat menggantikan popok si anak senangnya membolak balikkan badan dan tak betah .. Nah cara yang saya pakai ini yaitu sambil mengajak dia mendengarkan saya menyanyi dengan mimik wajah yang dibuat menarik perhatiannya, sehingga dia jadi diam dan tangan sayapun harus bergerak cepat menggantikan popoknya.

Saat menggantikan pakaian juga begitu, saya coba ajak si anak mengikuti arahan saya saat memasukkan tangannya ke bajunya, misalnya mana yah tangannya Zubair.. saat tangannya keluar saya pun bilang, ini dia.. halo tangan kanan.. sekarang tangan kirinya yah.. begitu seterusnya sampai juga saat mengajak dia memakaikan celananya.. Walau saya akui saya juga moody, tapi cara ini selalu berhasil menenangkan saya juga si kecil. Selain itu juga dengan cara tersebut selain saya mengajak si anak mengenali tangan kanan kirinya, juga menyampaikan kenapa harus berpakaian supaya menutup aurat dan juga tidak kedinginan, misalnya.

Sambil membuat gerakan dan bernyanyi rupanya Zubair mulai memperhatikan saya dan mengikuti gerakan yang saya buat. Lebih seringnya sih dia mengikuti gerakan kakak-kakaknya tapi kalau tak ada kakaknya jadilah mamanya yang ditiru.. hehe..

Mengajak dia bernyanyi di usia yang sudah mau 15 bulan, ternyata lumayan pesat juga daya tangkapnya.. mengenali bagian tubuh seperti kepala, tangan dan kaki, atau gigi, lidah dan mata, dan yang biasanya lebih mudah ditirunya misalnya dengan berbagai isyarat gerakan yang lucu.

Menstimulus si kecil ini menyenangkan, lebih sering membuat mamanya ekstra senyum dan gembira…

Aachen, 27 November 2017

#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs

Main Domino yuk..

Bismillah…

Sa’uda hari ini memilih sendiri mainan yang ia inginkan sepulang acara kegiatan Pengajian bersama dengan muslim Indonesia di masjid Bilal. Saya diajak bermain domino, dimana dia belajar mencocokkan gambar yang sama dari kartu domino yang ia ambil. Masih secara acak, belum mau diatur tapi dia sudah mampu menentukan dimana gambar yang sama.

P1140468

Domino dari Goki, pemberian tetangga sejak kami datang kesini.

Selesai mencocokkan semua gambar, ia pun bilang hebat, tanda dia sudah mampu menyelesaikannya sendiri. Saya pun sambil mengajak dia menyebut gambar binatang apa saja yang ia sedang susun. Menambah kosa katanya lagi, dengan terus mengulang-ulang..

P1140467

Masih menyusun sendiri

 

Aachen, 26 November 2017

#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs

Bermain dengan strategi

Bismillah..

Cuaca dingin diluar membuat kami urung bermain keluar, disamping ada beberapa aktivitas yang masih harus diselesaikan sehingga seharian ini kami hanya dirumah saja. Salwa dan Syahma berkreasi membuat slime lagi, selagi saya keluar sebentar berbelanja dengan Sa’uda.

Menghabiskan waktu selain dengan mengobrol dan bercanda ria, kami pun lagi  keasyikan bermain kotak berhitung dengan dadu. Sebenarnya permainan ini sudah lama diberikan oleh salah satu teman kami yang dulu sempat mengajari anak-anak mengaji. Saat itu kami perkenalkan ke Salwa dan Syahma belum tertarik. Nah sekarang mungkin karena sudah pas dengan usianya kami pun jadi keasyikan bermain kotak berhitung ini.

Permainan ini mudah, hanya mengocok dadu dan menurunkan angka yang sesuai dengan jumlah dadu hasil kocokan tadi. Hanya saja ini akan menang jika semua angka sudah habis semua diturunkan. Jadi sedikit butuh strategi supaya bisa habis semua angkanya. Angka yang ada hanya ada 1-9 dan jumlah dadu ada 2 sehingga angka yang mungkin muncul dari dadu yaitu 2- 12.

P1140465

Kotak permainan angka

Kami pun bergiliran, dari mulai Salwa, saya, Syahma dan Papanya.. Terkadang saya yang sudah bisa menyisakan 1 atau Papanya, dan Salwa Syahma terkadang menyisakan 3 angka yang belum diturunkan. Sampai akhirnya saya pun berhasil memainkan semua angka sehingga tidak ada angka yang masih tegak belum digunakan.

Terus anak-anak mencobanya hingga akhirnya Salwa pun berhasil menghabiskan angka-angkanya. Dan disini jadi menantang Syahma yang baru belajar berhitung dan mengatur strategi agar bisa menggunakan semua angka yang ada dari hasil jumlah dadunya.

Jadi teringat sama yang memberikan permainan ini.. Terimakasih yah Bude.. Moga bude sekeluarga sehat-sehat dan selalu dalam lindungan Allah.. Aamiin..

Aachen, 25 November 2017

#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs

Mengenal waktu ..

Hari ini cuaca gerimis mendung sekali. Pagi hari dimana matahari terbit mulai pukul 8 pagi waktu Aachen, terlihat masih seperti malam. Syahma pun saat saya antar ke sekolah merasa seperti masih malam, karena lampu-lampu masih menyala, bahkan lampu dari pusat perbelanjaan yang tak jauh dari rumah pun masih terlihat dengan indah lampu hiasnya dari kejauhan.

Syahma pun saya ulang untuk mengenal pola waktu selama musim gugur menjelang dingin, yang menurut kalender baru bulan akhir Desember-Januari lah awal waktu Winter. Jadi makin kehari matahari pun mulai sebentar berada di langit Aachen karena waktu terbenam pun sekarang sudah pukul 16.43. Perbedaan waktu di tiap musim terkadang membuat saya pribadi pun masih harus teru beradaptasi, terutama untuk masalah waktu shalat.

Disnilah pula saya masih suka jelaskan ke anak-anak untuk waktu shalat yang terkadang sudah lebih awal di musim dingin ataupun lebih malam untuk musim panas. Yang paling jauh beda waktunya yaitu waktu shalat Maghrib, Isya dan Subuhnya. Jadi ada pengenalan waktu shalat yang harus lebih sering lagi terutama ke Syahma. Jika mulai gelap saya tanyakan lagi ke Syahma, sekarang shalat apa yah.. Shalat Maghrib atau Isya.. Biasanya dia suka bertanya lagi yang 3 rakaat atau 4 rakaat ya.. hehe, ini mah jadi minta kunci jawaban yah..

Sepulang sekolah Syahma kembali memainkan buku saku Lük lagi, kali ini dia ketagihan sampai halaman 19. Walaupun di awal dia curi-curi mengerjakan sendiri, jadi saya tahu karena dia masih banyak salahnya. Inti kesalahannya yaitu karena diawal dia belum tahu apa sebenarnya perintah yang diminta di tiap halaman yang sudah ia kerjakan, jadi makanya ia masih banyak kesalahan. Buku saku ini lumayan menarik selain mengenal angka yang mirip, ada juga soal penambahan atau pengurangan dan ada juga soal memiripkan bentuk suatu bangunan dengan bayangannya. Dan tentu aja untuk menjawabnya dibutuhkan konsentrasi apakah berwarna hijau atau merah.

Hari ini Sa’uda sedang urung ke kindergarten, karena waktu tidur malamnya berubah otmatis paginya jadi sulit dibangunkan. Hmm, aktivitas apa yang menarik buat dia? Ternyata dia sedang ingin main air alias mandi berendam, hehe. Selama main air dia menuangkan air ke gelas-gelas kecil yang ada di kamar mandi. Selain itu ia ingin menuang minumam jus atau susunya sendiri, meniru kakaknya menggunakan tas sekolah saat menjemput Syahma, dan meminta ditiupkan balon. Nah saat bermain balon saya pun mengajak ia bermain tebak-tebakkan seperti : ini bola atau balon yah? sekilas tentang konsep pengenalan bentuk dan warna juga.Juga saat menuangkan air jus atau susu biasanya saya takar tidak penuh, makan saya ajarkan untuk dia hanya setengah gelas saja, nanti kalau sudah habis baru boleh tambah lagi. Ini sedikit mengenalkan dia bahwa porsi separuh itu setengah gelas yang biasa ia pakai, dan melatih tidak mubazir juga karena biasanya suka kepenuhan dan akhirnya malah jadi terbuang karena tumpah atau malah tidak jadi diminum.

Lain halnya dengan Zubair, ia lebih senang meniru saya di dapur, seperti menuangkan beras ke wadah, mengambil sapu, mengenal bentuk buah jeruk atau alpukat, dan mulai menaruh sampah plastik ke tempat sampah plastik.. Nah bagian yang ini banyak butuh perhatian, karena disaat saya sempat tinggal, dia hampir saja membuang mainan mobil kesukaannya. Untung pas saya lihat sebelum dia taruh, dan ketika saya cegah dia berhenti, seketika itu juga saya jelaskan bahwa itu mainannya belum rusak dan masih bisa dipakai, jadi belum boleh dibuang. Yang dibuang kalau yang sudah rusak saja. Hmm, harus hati-hati yah bisa-bisa setiap barang yang ia rasa itu sampah bisa saja dibuang. Jadi harus lebih diperhatikan.

 

 

Aachen, 24 November 2017

#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs

 

Mengenalkan matematika logis

” Ma, ada pesawat..” teriak Sa’uda sambil menunjuk ke atas, saat pulang bersama dari kindergarten.. ” Oh iya.. ada berapa pesawatnya yah?” tanya saya. ” Ada satu.. dua” sambil menunjuk ke arah yang  lainnya.. Rupanya Sa’uda melihat ada pesawat lain di arah yang berbeda. ya Alhamdulillah langit cerah walau berangin, jadi bisa terlihat jika ada pesawat yang melintas di atas langit. Mengajak Sa’uda mulai menghitung pun bisa dari apa yang dia lihat di sekitarnya, seperti yang baru saja saya ceritakan.

Hari ini pun beruntung, saya mendapat satu buku saku bekas permainan berhitung Lük dari kindergartennya Sa’uda. Buku ini sebenarnya cocok untuk bepergian, tapi tak ada salahnya saya mengenalkan ke anak-anak terutama Salwa dan Syahma. Sebelum ke Syahma (6tahun) saya ajak Salwa untuk mencobanya terlebih dahulu. Karena di halaman depannya ada tulisan usia yang dianjurkan yaitu usia 5-7 tahun.

Buku saku Lük

Ketika Salwa mulai dapat mengikuti perintahnya, dan mampu menyelesaikan semuanya karena penasaran katanya, baru saya kenalkan ke Syahma.. Diawalnya Syahma menemui kesulitan, karena selain butuh konsentrasi dia harus mampu juga membedakan jawabannya yang ada dan menandainya dengan warna hijau atau merah. Ditiap halaman belakangnya ada kunci jawabannya yang bisa dicek langsung jika dia salah menjawab.

Sayangnya dia baru mampu menjawab dua halaman dan kemudian terganggu konsentrasinya oleh adiknya. Tapi lumayanlah dia sudah mau belajar mengerjakan buku ini. Dan saya pun mengajak dia jika ingin mengerjakan buku ini kabari saya atau papanya untuk menemaninya mengerjakan itu.

Syahma mencoba mengerjakan halaman pertama

Ketika menjelang makan malam, saya menawarkan Salwa untuk membagi Nugget yang jumlahnya ada 10 potong. Karena yang suka Nugget hanya anak-anak, jadi Salwa sudah otomatis menghitung “Ma, aku mau 3 ya, Syahma Sa’uda juga 3. Tapi Zubair dapat satu aja ya ma.. gapapa kan ma? Dia kan masih kecil juga.. hehe” Saya pun mengangguk menyetujui alasannnya, walau kadang sebenarnya Zubair belum masuk hitungan untuk makan nugget ini. Tapi saya menghargai Salwa karena sudah bisa berbagi dengan adik-adiknya.

Tanpa disadari yah, kejadian sehari-hari itu sudah banyak matematika nya.. Dengan menghitung berapa pesawat yang dilihat saat perjalanan pulang, membagi berapa porsi nugget dan kejadian lainnya selain belajar matematika secara formal buat Salwa dan Syahma di sekolah.

Aachen, 23 November2017

#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs

 

 

Tantangan belum usai

Di hari ke 10  mencoba melatih diri berkomunikasi yang baik dengan anak-anak, ternyata membuahkan hasil. Paling tidak saya mulai melihat ada perubahan walau masih kecil dari tiap anak-anak kami. Misalnya saja anak saya yang ketiga sudah mulai ijin ketika ingin meminjam sesuatu, tidak berteriak-teriak lagi, dan saya harap akan ada lagi perkembangannya. Sedangkan anak kedua kami, saya melihatnya masih butuh diperhatikan terus bagaimana ia ingin menyampaikan sesuatu dengan bahasa Indonesia nya. Sudah mulai terlatih walau susunan kata-kata tetap saja masih terbalik-balik. Putri pertama kami sudah mulai mengerti kenapa dia tidak boleh teriak-teriak, dan paham jika saya meminta tolong sesuatu maka ia segera membantu saya.  Belum terlalu banyak perubahan tapi paling tidak ini sudah bisa menjadi landasan saya untuk terus mengenal bagaimana harus berkomunikasi dengan anak-anak saya. Bahkan untuk si kecil yang masih 9 bulan, saya mulai mengenalkan juga untuk semangat latihan merangkak, mensupport dengan kata-kata positif, dan sebagainya.

Ada poin yang masih belum saya latih dalam tantangan di Komunikasi Produktif ini yaitu Fokus pada Masa Depan, Refleksi Pengalaman dan Observasi. Walaupun dari postingan sebelumnya saya sedikit mulai menjelaskan bagaimana mengobservasi kenapa anak berperilaku atau berbuat sesuatu, tapi saya belum menekankan ke anak-anak. Bagaimana anak-anak dapat juga melihat sekelilingnya untuk mengobservasi atas sesuatu.


“Ma, aku kayaknya mau jadi guru deh” ujar anak pertama kami, “tapi belum tahu sih ma, nantinya berubah apa ngga” tambahnya. Akhirnya keluar juga nih perkataan ayuk ingin jadi apa. Saat itu saya meresponnya mau jadi guru apa? dia pun masih menggelengkan keala tanda belum tahu. saya hanya menekankan bahwa apapun yang nanti dia kerjakan, harus sesuai dengan apa yang ia inginkan, ia suka, dan bermanfaat juga sesuai dengan ajaran agama. Saya akhiri perbincangan saya saat itu dengan bilang ke putri kami,” kan mbah ibu sama papa juga guru, walau yang satu di sekolah dasar satu lagi di perguruan tinggi.” hehe..


Perilaku yang saya rasa masih sering berubah-ubah yaitu anak kedua kami. Mungkin karena ia sedang masa transisi ingin ke sekolah dasar dari taman kanak-kanak, jadi saya merasa egonya sedang meninggi. Sulit diajak kerjasama salah satunya. Hari ini ia juga sering merasa bosan di rumah, karena ia belum tahu apa yang bisa ia lakukan. Walaupun sering diarahkan, tapi ada saja alasannya. inilah tantangan kami, menjadikan dia sosk yang tidak mudah bosan dan mulai percaya diri atas apa yang ia kerjakan.


Selama di rantau ini, saya merasakan nikmatnya berkomunikasi dengan suami. Karena saya hanya punya teman cerita yah suami ku ini. hehe. Jadi apa saja biasanya akan saya ceritakan terlebih tentang apa yang terjadi dengan anak-anak, sampai hal apa yang saya minta bantuannya untuk mengkomunikasikan ke anak-anak. Supaya tidak terjadi perselisihan pendapat antara kami tentunya, saat bertindak sebagai orang tua di depan anak-anak. Walau kadang suka naik turun, tapi itulah yah namanya pasangan, ngga ada yang beda malah ngga asyik, hehe..

Tapi untuk masalah anak-anak saya sebisa mungkin berkonsultasi dengan suami, apa saja yang baiknya kami lakukan jika sedang menemui suatu kondisi dengan anak-anak.

Rasanya tantangan ini ngga akan usai, karena kamipun masih belajar. 10 hari belum terasa cukup untuk memastikan apakah sudah produktif komunikasi antara saya dengan anak-anak ataupun ke suami, Tapi dengan melalui tahapan ini, saya merasakan ada kesadaran dalam diri saya bahwa banyak yang perlu saya benahi dan belajar lagi, terutama jika menemui situasi-situasi yang sulit yang belum pernah saya hadapi. Menjelang 10 tahun pernikahan kami, saya pun merasakan perbedaan antara saya dan suami itu bukan lagi menjadi sebuah dinding yang tidak bisa dilewati, tapi saya sedang membuat pintu agar dinding itu mudah dilewati.

Moga bermanfaat ya..

Aachen, 17 Juni 2017

#level1

#day10

#tantangan10 hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

 

 

Psst.. ayuk lagi sakit ..

Hari kedua di pekan sekolah, qadarullah anak sulung kami sedang kurang sehat. Malam saat menjelang sahur terbangun dan batuk-batuk. Paginya pun mulai sakit kepala dan tidak enak saat menelan. Yah ayuk (panggilan kakak perempuan di keluarga kami) lagi kurang sehat.

Ketika adik-adiknya mulai bangun, dan sedikit bingung kenapa ayuknya masih tertidur, kami pun menjelaskan bahwa ayuknya kurang sehat. Jadi butuh istirahat dan tidak bisa sekolah dulu. Nah untuk yang putri ketiga kami yang masih 3 tahun ini kami timbulkan rasa empatinya dengan cara tidak berisik di kamar ayuknya saat mengambil mainan, dan membiarkan ayuknya istirahat dulu. Maklum, putri ketiga ini kalau sudah tahu ada kakaknya di rumah selalu ingin diajak main bareng soalnya.

Saat ada yang terkena sakit, biasanya kami memberitahukan ke tiap anggota keluarga untuk lebih perhatian ke yang sakit. Jadi saat ayuk sakit, berarti ada beberapa konsekuensi yang anak-anak lain tahu. Seperti ayuknya dibolehkan untuk tidak berpuasa dulu, harus tidur siang, tidak makan chips, dan sebagainya. Jadi kalau ada yang tahu ayuknya makan chips harus melapor ke mama atau papanya. hehe..

Saat suatu malam, pernah ada kejadian saya sedang kurang sehat. Kemudian putri ketiga kami ini memberikan empatinya ke saya, sambil mengelus rambut saya, “kiss mama”.. melow deh mamanya kalau dibeginiin.. hehe.. Tapi memang tiap anak akan beda-beda yah cara berempatinya. Dari apa yang saya perhatikan kalau anak pertama kami lebih ke apa yang bisa ia bantu jika ada yang sakit, anak kedua lebih ke memperhatikan bagian yang mana yang sakit, dan anak ketiga mulai terlihat ke sentuhan fisik yang seperti apa biasanya ia lihat, jadi ia menirunya.

Menunjukkan empati merupakan salah satu poin dalam komunikasi produktif pada anak di kelas bunda sayang. Melalui tantangan ini pun saya jadi teringat pentingya menimbulkan rasa empati ke anak-anak. Terutama saat salah satu dari anggota keluarga kami sedang sedih ataupun sedang sakit.

Ketika anak-anak mulai peka akan apa yang terjadi di sekitarnya, misalnya ada anak kecil atau temannya di sekitarnya sedang sedih atau pun sedang kesakitan karena jatuh, kami pun mulai mengajarkan anak-anak untuk membantu anak/temannya tersebut sesuai dengan apa yang mereka bisa bantu. Atau pernah juga saat di sekolah ayuk nya ada pengungsi dari Suriah misalnya, kami mengajarkan berempati ke anak-anak, dan menggambarkan pula bagaimana rasanya harus berpindah ke negara lain di saat di negara sendiri, rumahnya sudah hancur dan banyak kekacauan yang terjadi. Yah walaupun mereka masih meraba-raba seperti apa jelasnya, tapi paling tidak putri sulung kami yang sudah mulai paham karena dibantu dengan salah satu video dokumentasi tentang keluarga pengungsi berbahasa Jerman yang pernah ia tonton di Youtube.

Tantangan ini pun masih berlanjut seterusnya dan memang butuh arahan dari kami sebagai orang tua. Apalagi dalam lingkungan yang berlatar belakang beda budaya, terkadang cara berempati pun berbeda. Tapi paling tidak patokan kami adalah dengan mengajarkan berempati yang sesuai dengan agama kami, yaitu Islam. Menunjukkan kasih sayang sesama anggota keluarga itu lebih utama, walau sering berantem atau berebutan mainan, tapi harus ingat bahwa kita satu keluarga yang harus saling menyanyangi.. Butuh latihan dan tentunya belajar ilmunya terus pastinya..

Harapan kami dengan terus melatih berempati inipun anak-anak nantinya dapat menjadikan anak-anak dapat bertindak yang sesuai dengan situasi kondisi tertentu dengan baik. Sehingga orang lainpun dapat merasakannya.

Aachen, 12 Juni 2017

#level1
#day8
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip